Senin, 12 November 2012
gerimis mempercepat kelam....
tak ada suara
terdiam dibelenggu kabut malam
dingin ....
sedingin rinduku yang menusuk sunsum,trasa ...!!
Salah aku mencarimu ke utara .....mustinya ke atas sana.
salah aku mencarimu ke singgasana.....mustinya ke nirwana.
namuun...!!!
itu tidak sia-sia
bukan buang-buang waktu
itu langkahku....
dalam mengenang dirimu ....
satu ASA dalam benak
tak pernah tertinggal
tak pernah terlupa
bilakah engkau berkata
bilakah berucap
"YA"....
Gundah gulana tak kan ada
keresahanpun kan murca manakala kau mengiya
ASAku menggantung di waktu
harapanku bukan kata seribu
namun satu
"YA"
Aku Rindu Bulanku
tak pernah tertinggal
tak pernah terlupa
bilakah engkau berkata
bilakah berucap
"YA"....
Gundah gulana tak kan ada
keresahanpun kan murca manakala kau mengiya
ASAku menggantung di waktu
harapanku bukan kata seribu
namun satu
"YA"
Aku Rindu Bulanku
inilah tanganku....
genggam dengan keindahan.
Inilah tubuhku....
peluklah denganCINTAmu.
Inilah bibirku...
berkelahilah dengan ciuman mendalam yang memabukkan.
Suatu lagu sendu diatas senja
Diiringi alunan meninggalkan terang
Dan ….
Kisah hidup terbawa juga
Dengan nyanyian lagu malam
Lagu BULAN dan BINTANG
Yang membawa pekatnya malam
Hilang …….terbawa mimpi.
Saat itu ku dengar suaramu
Ku dengar ….sayup-sayup lewat jendela
Membawa suka dan duka hatimu
Yang melingkupi kalbu.
Akhirnya …….
Lenyaplah suara lagu itu
Aku rindu suaramu
Tapi ……
Aku tak pernah tau
Siapa sebenarnya dirimu
Aku ingin lihat kesana
Tapi semua musnah dalam sedarku
Semua hilang dalam pandangan
Dan semuanya …..
MUSNAH …!!!
SYAIR CINTA ARYA DWIPANGGA
Pelangi muncul diatas kurawan
Warnanya indah bukan buatan
Seorang gadis ternganga keheranan
Rambutnya tergerai jatuh ke pangkuan
Sekuntum cempaka sedang mekar ditaman sari desa Manguntur
Kelopaknya indah tersenyum segar
Kan kupetik cempaka itu untuk kubawa tidur malam nanti
Ku buka daun jendela dan terbayang malam yang indah di hiasi chandra kartika
Di bulan Waisya ini
Sepuluh kali aku melewati pintu rumahmu yang masih rapat terkancing dari dalam
Kapn kubuka
Wahai sang dewi puspa
Pelangi itu muncul lagi
Membuat garis melengkung ke langit tinggi
Daun ilalang diterpa angin gemerisik membangunkan tidurku dari dari mimpi buruk
Di batas tugu yang indah ini ku pahat dengan bermandikan keringat kasih
Kalau kau tatap mega yang berbunga-bunga
Disanalah aku duduk menunggu pintu maafmu terbuka
Pelangi senja mengantarkan burung-burung pulang ke sarangnya
Domba-domba pulang ke kandangnya
Tapi aku hendak kemana
Apa yang kulakukan menjadi tak berharga selama senyummu masih kau sembunyikan di balik keangkuhan hatimu
Nari Ratih.......................!
Kau adalah sebongkah batu karang
Tapi aku adalah angin yang sabar setia
Sampai langit di atas terbelah dua
Aku akan membelai namamu bagaikan bunga
Jika hari telah tidur dipangkuan malam
Kukirim bisikan hatiku ini bersama angin
Biarpun malam pucat kedinginan
Biarpun bintang merintih di langit yang jauh
Aku akan tidur dengan tenang
Sambil memeluk senyummu dalam kehangatan mimpiku
Aku berkelana mencari cinta ke desa-desa yang jauh
Akhirnya di candi walandit kupuaskan dahagaku
SYAIR PENGIRING KETIKA ARYA DWI PANGGA BELAJAR AJIAN KIDUNG PAMUNGKAS
Ketika kata-kata……………
Sudah tidak bisa menjawab tanya……………
Maka bahasa pedanglah yang bicara………………
Bahasa para ksatria……………
Bahwa bumi mununtut sesaji darah manusia……………
Pedang……………
Taring betarakala sedang di amuk murka……………
Amarahnya menelan rembulan jadi gerhana……………
Bumi……………
Gelap pekat menangis air mata merah……………
Gemerlap kilat pedang menusuk dunia……………
Darah mengalir dari ujung pedang kekuasaan……………
Tergelar dari ujung pedang……………
Sebagaimana derita juga tergelar dari ujung yang sama……………
SYAIR DUKA PANGERAN KEGELAPAN / ARYA DWIPANGGA
Oh betara...Sdh sulit ku bedakan hidup dan siksa....
Setiap nafas dan langkah ku raja derita......
Oh betara....
Buka matamu dan saksikan derita ku....
Telah kau kalahkan aku dengan tangan perkasamu....
Oh betara....
Kini mimpi-mimpiku pun hitam gelap...........
Segelap bola mata ku............
Letih sudah kaki menyelusuri lembah.......
Tapi.......
Perjalanan tidak kunjung usai.......
Tidak terperih luka.......
Carut marut oleh onak duri
Oh........
Perih luka ternyata jauh lebih perih jiwa.......
Gemulung halimun menutup jalan semua jalan........
Tapi aku tetap ingin pulang..........
Dewa..............
Kembalikan masa bocahku kedalam jiwa............
Jangan peluk akhir perjalananku........
Aku masih punyak rindu...........
Yang belum pupus............
Jemariku belum lagi menyentuh bayang-bayang mimpi ku
Jagat dewa batara.........
Sejuta kutuk pasu ku tadah dengan dada terbuka........
Tapi belum juga kau satukan aku dengan anak-anakku..........
Oh...............
Hanya rindu yang meratapi dosa-dosa........
Busuk.............
Satu-satu ...........
Orok dosaku mengering sudah............
Satu-satu ...........
Bayangan masa datang terasa benderang........
Ada serentang benang lembut sekali
Tak tertangkap panca indra
Tali gaib ……..
Pengikat bathin kita
Aku ingi selalu menatapmu ….
Aku ingin selalu kau tersenyum untukku ….
Aku ingin selalu meniti hari hari bersamamu ….
Aku ingin ….
Aku ingin segalanya
Bersamamu ….selalu
Kala malam semakin menepi
Ingin kuraih bayangmu dalam bunga mimpi ……
Agar dapat kita berjumpa dan bercerita
Tentang sepinya perjalanan ini
Tanpamu disisiku……
Alangkah bahagia bila kau rasakan jua
Galaunya rindu yang begitu menyiksa
Karena bersamamu…..Ku ingin senantiasa
Berbagi indahnya ceria ….
Dan duka nestapa.
Ingin kuraih bayangmu dalam bunga mimpi ……
Agar dapat kita berjumpa dan bercerita
Tentang sepinya perjalanan ini
Tanpamu disisiku……
Alangkah bahagia bila kau rasakan jua
Galaunya rindu yang begitu menyiksa
Karena bersamamu…..Ku ingin senantiasa
Berbagi indahnya ceria ….
Dan duka nestapa.
Langganan:
Postingan (Atom)










