Tampilkan postingan dengan label Arya Dwi Pangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arya Dwi Pangga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 November 2012

SYAIR DUKA PANGERAN KEGELAPAN / ARYA DWIPANGGA

Awan bergulung diatas anjasmara.
ada sukma ikut merintih didalamnya
ada hati membara dibakar dendam lama
palingkan wajahmu
campakkan rasa iba
cabut senjatamu bunuh siapa saja
buatlah dunia menjadi bergetar
dan langit berguguran
menatap pedangmu yang bermandikan darah
kemudian celupkan tanganmu
didalam kubangan dosa
seorang laki laki menjadi berharga
karna kekuatannya

KIDUNG CINTA DARI KURAWAN


Pelangi diatas kurawan
Pelangi muncul diatas kurawan.
Warnanya indah bukan buatan
Seorang gadis ternganga keheranan Rambutnya tergerai jatuh kepangkuan

Sekumtum cempaka sedang mekar
ditaman sari desa tumangkar Kelopaknya indah tersenyum segar Kan kupetik cempaka itu untuk kubawa tidur malam nanti

Ku buka daun jendela dan terbentang malam yang indah
di hiasi chandra kartika
Di bulan Waisya ini
Sepuluh kali aku melewati pintu rumahmu
yang masih rapat terkancing dari dalam
Kapan kubuka Wahai sang dewi puspa

Pelangi itu muncul lagi
Membuat garis melengkung ke langit tinggi
Daun ilalang diterpa angin gemerisik
membangunkan tidurku dari dari mimpi buruk
Di batas tugu yang perkasa ini
ku pahat namamu diatas pualam
kupahat dengan bermandikan keringat kasih
Kalau kau tatap mega yang berbunga-bunga
Disanalah aku duduk menunggu pintu maafmu terbuka

Pelangi senja mengantarkan
burung-burung pulang ke sarangnya
Domba-domba pulang ke kandangnya
Tapi aku hendak kemana
Apa yang kulakukan menjadi tak berharga selama senyummu masih kau sembunyikan
di balik keangkuhan hatimu


Nari Ratih…………………..!

Kau adalah sebongkah batu karang
Tapi aku adalah angin yang sabar dan setia
Sampai langit di atas terbelah dua
Aku akan membelai namamu bagaikan bunga
Hujan sore ini turun dengan sedihnya
tanpa angin tanpa pelangi
apakah itu pertanda harapanku akan sia sia
kulewati malam yang dingin ini dengan gemetar
sambil terus mengenang wajah mu
Nari Ratih

 Aku berkelana mencari cinta
 ke desa-desa yang jauh
Akhirnya di candi walandit
kupuaskan dahagaku

SENANDUNG DUKA ARYA DWIPANGGA



oooh.. betara......
sudah semakin sulit ku bedakan hidup dan siksa
setiap nafas dan langkahku raja derita

ooooh betara...
buka matamu dan saksikan deritaku...
telah kau kalahkan aku dengan tangan perkasamu...

oooh betara.....
kini mimpi mimpiku pun berwarna hitam
sekelam bola mataku.....
Siapa yang menabur budi
dia akan menuai buah
siapa yang menabur kajahatan
dia akan menuai petaka
siapa memfitnah
dia akan menerima kehancuran

bersyukurlah
kamu masih sempat menyesali dosa dosamu
karna hanya itulah
satu satunya gerbang yang bisa kau lalui
untuk mencapai pencerahan
walaupun gerbang itu mungkin sangat sempit

mandilah...
sebuah niat yang bersih untuk bertobat harus  dengan tubuh yang bersih pula
mandilah....
air akan memebersihkan tubuhmu
air akan mendinginkan nafsumu amarahmu
dan mulailah menjalani pencerahan hidupmu
sebelum segalanya terlambat

satu satu borok dosaku mengering sudah
satu satu....
bayangan masa datang kembali terasa benderang

DENDAM LAMA DARI KURAWAN


Akulah seorang laki laki dengan segumpal dendam
menghiasi dada
kuseret langkah langkahku menyusuri jalan berkabut
kugenggam dua bilah pedang untuk membunuh seekor anjing pengecut
oohhh alangkah tenangnya hidup ini
ooh..  alangkah damainya hati ini
alangkah sejuknya udara pegunungan
 jika api dendam telah dipadamkan
aku benci melihat kegagalan
 dinding dinding karang yang bisu
tidak akan mampu menghiburku hatiku
angin  kencang bertiup membawa bau busuk
aku terkapar diatas batu
 aku terbuang bagai seonggok sampah
aku terhina bagai anjing kena gebuk
aku tersinggung bagai raja ditolak cintanya
aku malu memandang bayanganku sendiri
akan kurobak pakaianku ini
akan kuinjak injak wajahku ini
akan kucekik leherku
dan kubakar rambutku
oh.. apa gunanya pengembaraan panjang
akhirnya semua gagal membentur dinding dinding karang

aku datang dari balik gumpalan gumpalan kabut gaib
aku terbang menembus jadah melintasi samudera darah
kan kupecahkan wajah matahari
kan kuhancurkan wajah rembulan yang dingin
aku terbang melintasi kabut berwarna merah
kan kubuat isi dunia berwarna merah
lihatlah kugenggam seluruh isi alam
akan kuhirup udara sendirian penuh dendam
biarkan aku mabuk dan melangkah sempoyongan
aku tidak membutuhkan sahabat
datanglah wahai badai tantangan
lihat aku tetap tegar berdiri
sambil minum tuak dicampur api dendam

DENDAM BERDARAH ARYA DWIPANGGA


Jika dia datang malam ini
Bulan dilangit menjadi saksi
hatiku akan bersorak gembira

Dan pedangku akan kembali bicara
angin berhembus ke arah utara
menyebarkan aroma kematian tanpa makna
nafas maut menggetarkan udara malam
nafas dendam membakar isi alam
bertahun sudah ku jelajahi permukaan  bumi
rasa jemu bergayut menyesakkan hati
aku melangkah berat diatas puing puing masa lalu yg hina
kau buat diriku jadi tidak berharga
kau usik ketenanganku dan kau ganggu kedamaianku
kau rendahkan martabatku bagai seekor anjing
kau campakkan kejantananku dengan semena mena
kau tiupkan kesombonganmu dari atas tebing
kau buat hidupku menjadi kalang kabut tidak menentu
jika kau datang malam ini kita akan bertarung dan menempuh jalan kebinasaan
datanglah wahai datanglah kan kulumuri pedangku ini dengan darahmu
datanglah wahai datanglah jangan  tutupi wajahmu
tak perlu kau sebut namamu
kita menyabung nyawa malam ini

AKU INGIN PULANG



letih sudah kaki menyusuri lembah
tapi perjalalanan tidak kunjung usai
tidak terperi luka
carut marut oleh onak duri
perih luka ternyata jauh lebih perih jiwa
gemulung halimun menutup jalan semua jalan
tapi aku tetap ingin pulang
dewa.......
kembalikan masa bocahku kedalam jiwa...
jangan akhiri perjalananku...
aku masih punya rindu yang belum pupus
jemariku belum lagi menyentuh bayang bayang mimpi

 Jagat Dewa Batara.........
Sejuta kutuk pasu ku
tadah dengan dada terbuka........
Tapi belum juga kau satukan
aku dengan anak-anakku..........
Oh...............
Hanya rindu yang meratapi dosa-dosa........
membusuk.............

SENANDUNG RINDU MEISHIN


alangkah sunyinya tempat ini
aku berdiri ditepi cakrawala
kulihat warna merah muncul dari permukaan kegelapan
warna merah itu pecah berderai
dan merata menutup bumi
Aku tidur diatas rumput biru
dan dari jauh kulihat puncak gunung melambai padaku
tiba tiba angin bertiup kencang
menerbangkan daun daun dilereng gunung
dan angin itu merentangkan jubahnya yang dingin
menyelimuti padang biru
aku merintih kedinginan
aku menggeliat disela sela rumput

ooh... dingin nya
dingin nya seperti negri salju
aku tidak tahan lagi
bibirku serasa membeku
tiba tiba langit tersibak
muncul seorang penunggang kuda dari celah celah yang bercahaya
dia seorang lelaki perkasa..
dia...........
dia menghampiriku
mengeluarkan sebilah pedang  perkasa
dan mengusir angin dengan sebilah  pedangnya itu
angin berlari ketakutan dan mereka  bersembunyi dibalik kabut
laki laki itu menyarungkan kembali pedangnya
 dia tersenyum dia menghampiri aku

SAMUDRA DARAH


Aku berdiri diatas bukit masa kini.
dan menatap kabut kenangan dikejauhan
angin menyuburkan pohon pohon mimpiku
dan tanganku menggerayangi gelapnya waktu

aku datang dari dunia kegelapan
kuterobos dinding dinding batu kelam
aku terbang bagaikan kelelawar ajaib
mengarungi samudera darah
aku haus aku dahaga
jiwaku menjerit karna haus dan  dahaga
aku melolong bagaikan raja srigala

kuhisap kekuatan triloka
kurangkum tenaga tribawana
kusalurkan kedalam pembuluh darah
kusebarkan keseluruh daging kulit
kuhembuskan nafas tiga kali
dan kugenggam jagad raya dalam kepalan  tangan ini
pohon ku jelang kering
samudra kubuat mendidih dengan telapak tanganku
kuremas hancur gunung gunung batu
inilah pukulan kidung pamungkasku
hiiaaaaaaaaaaat..........

RAJAWALI SANG RAJA ANGKASA



Burung rajawali melintas dipuncak candi.
kepak sayapnya menggetarkan hati
dia merasa menjadi unggas paling perkasa
dia terbang membelah langit
sambil berkaok menantang musuh nya

Permukaan bumi mengkerut karena takut
daun daun pohon berguguran dicekam kengerian
burung rajawali melintas dipuncak candi
dialah raja angkasa raya
berilah  jalan padanya untuk memburu musuhnya

seekor burung branjangan terbang rendah
dia terbang sambil bernyanyi
tentang bulu bulunya yang indah
suaranya merdu dan berwibawa
dia gesit tapi sopan dan ramah
persetan dengan langit penuh kesombongan
masa bodoh angkasa menyimpan seribu dendam
branjangan yang cantik dan gesit
tetap terbang sambil bersuit suit
ia seekor burung yang sederhana
sekalipun mampu terbang bagaikan kilat bawana

sebatang pohon tua
berdiri goyang menantang musim kering
menatap kehidupan dengan mata hampa
segala  gairah dan harapan sudah sirna
sebatang pohon tua yang tak berguna
sudah selayaknya ditebas dengan parang
dirobohkan untuk rabuk
bagi tumbuh tumbuhan yang lebih muda

tak ada yang perkasa dimuka bumi ini
semua bertekuk lutut ditelapak kaki sang waktu
hidup manusia dalam genggaman nasibnya sendiri
orang menjadi besar bukan karena kekuatannya
bukan karna kesombongan nya
bukan karna kekuasaannya
pendekar besar lahir dari cara hidup yang sederhana
jika rajawali terbang melintas candi
dan berani membuang kotoran ditempat tempat suci
maka bulu bulunya akan rontok
dan suaranya akan menjadi parau
sebelum burung malang itu menukik
menjemput dewa maut

aku datang dari kabut kegelapan
aku datang dari balik dunia gaib
kan kupecahkan matahari
kan kurobek robek wajah rembulan
akulah pangeran kegelapan
aku terbang dan jubahku
mengibas ngibaskan hawa maut
aku terbang diatas samudra darah
kan kubuat dunia ini berwarna merah
kan kugenggam isi jagad raya ini
dalam kepalan tanganku

DESA KURAWAN.


Kurawan terbaring di atas kaki Anjasmara
Hidupnya tenang di belai angin bukit yang manja
Kurawan adalah Desa kelahiranku
Dimana aku lahir dari rahim seorang ibu
Kurawan, Desa penuh kenangan merdu
Disinilah ku hirup segar masa kanak-kanak ku
Angin musim kering datang bersama kelakarnya yang mengharukan
Gerimis pagi hari yang membunuh harapan demi harapan
Suara kicau burung diatas ranting Pohon Marakugi
Keluh kesah petani dari hari ke hari menjadi warna dari setiap desa kelahiran
Kurawan terbaring di atas kaki Anjasmara
PerLaHAN-lahan waktu merubah bentuknya
Wajahmu semakin keriput dan tua
Apakah desa ini masih kuat berlari
Mendaki tebing-tebing tinggi sambil bergurau seperti dulu
Kurawan yang jelita
Terbaring manja di kaki Anjasmara
Terlelap dalam mimpi bulan purnama
Termenung menatap kota tua singasari

Kurawan yang jelita
Desa yang damai
Orang-orangnya yang ramah
Gadisnya cantik-cantik
Kepala Desanya murah hati
Kurawan yang jelita
Terbaring diam di kaki Anjasmara
Kurawan yang jelita
Sebuah desa yang penuh menyimpan kenangan lama
Kurawan yang jelita
Disinilah benih dendam itu telah disemaikan
Seekor srigala terlepas dari sarangnya
Dan sekarang berkeliaran mengumbar taringnya
tapi sejahat jahat nya srigala tak  akan membakar sarangnya sendiri

Selasa, 13 November 2012

PENDEKAR SYAIR BERDARAH


Mayapada aku datang. . . .

akan kulumuri wajahmu dengan darah.  . .  .

akan aku tantang kekejamanmu  . . . . . .


dengan dua cakarku . . . . . .

kematian dalam nafasku . . . . .

 kematian di setiap langkahku. . . . . . .

AJI KIDUNG PAMUNGKAS ARYA DWIPANGGA



KIDUNG PAMUNGKAS

kepalsuan selalu menipu bumi
yang lembut dan jujur.
topeng topeng putih yang semuci suci .
selalu laris terjual di pasar pasar
di warung warung
karna terlalu banyak manusia busuk
 ingin menutupi kebusukan nya
aku datang dari balik kabut merah
terbang melintasi samudra darah
akan ku pecah wajah rembulan malam
akan kubuat isi alam menjadi kelam
akulah pangeran kegelapan
kidung pamungkas

SYAIR KIDUNG PAMUNGKAS ARYA DWIPANGGA


Jangan ada suara kalau syairku sedang bicara
Karena suaraku ingin memutar balik cakra dunia
Kenapa orang bijak bicara dengan jumawa
Tidak ada yang abadi di jagad raya ini
Kecuali ketidak abadian itu sendiri
Padahal duka hidupku abadi
Luka hatiku abadi

Pagi mengusir malam
Siang menghardik embun
Dan malam menelan matahari juga abadi
Dari waktu ke waktu
Sampai ratusan abad sejak alam mayapada
Digelar para dewa


Dendamku pada kamandanu juga abadi
Begitu juga dendamku pada nasib juga abadi

oooh…
Akan kutebar gelembung dendam rahwana
Menyebar keseluruh mayapada
Menutup kayangan di puncak Mahameru

SYAIR BERDARAH ARYA DWIPANGGA


''Kematian'' adalah kidung indah....
dalam hidupku.....

kematian tercium dari ujung ujung pedangku...
kubeberkan dosa pada setiap tetes darahku...
sembari kusiramkan api neraka
kesekujur tubuhmu......

Kata membuat mantra
mantra menyusun daya
daya mantraku memanggil demit
semua demit
bawa musuh abadiku datang bersama embun
akan kulumuri tubuhnya dengan darah yang kutoreh
dengan sepasang pedangku

"Mayapada''
akan kulumuri wajahmu dengan darah
manusia yang paling terkutuk
kematian didalam nafasku
kematian di ujung ujung pedangku....

kata membuat mantra
mantra menyusun daya
daya mantraku
mengunci semua daya
daya mantraku
menyerang pikiran manusia

aku datang dari balik kabut merah
terbang melintasi samudra darah
akan ku pecah wajah rembulan malam
akan kubuat isi alam menjadi kelam
akulah pangeran kegelapan
kidung pamungkas
kuremas isi bumi dengan mantraku

Senin, 12 November 2012

ARYA DWIPANGGA (SYAIR CINTA)


SYAIR CINTA ARYA DWIPANGGA

Pelangi muncul diatas kurawan
Warnanya indah bukan buatan
Seorang gadis ternganga keheranan
Rambutnya tergerai jatuh ke pangkuan

Sekuntum cempaka sedang mekar ditaman sari desa Manguntur
Kelopaknya indah tersenyum segar
Kan kupetik cempaka itu untuk kubawa tidur malam nanti

Ku buka daun jendela dan terbayang malam yang indah di hiasi chandra kartika
Di bulan Waisya ini
Sepuluh kali aku melewati pintu rumahmu yang masih rapat terkancing dari dalam
Kapn kubuka
Wahai sang dewi puspa

Pelangi itu muncul lagi
Membuat garis melengkung ke langit tinggi
Daun ilalang diterpa angin gemerisik membangunkan tidurku dari dari mimpi buruk
Di batas tugu yang indah ini ku pahat dengan bermandikan keringat kasih
Kalau kau tatap mega yang berbunga-bunga
Disanalah aku duduk menunggu pintu maafmu terbuka

Pelangi senja mengantarkan burung-burung pulang ke sarangnya
Domba-domba pulang ke kandangnya
Tapi aku hendak kemana
Apa yang kulakukan menjadi tak berharga selama senyummu masih kau sembunyikan di balik keangkuhan hatimu

Nari Ratih.......................!
Kau adalah sebongkah batu karang
Tapi aku adalah angin yang sabar setia
Sampai langit di atas terbelah dua
Aku akan membelai namamu bagaikan bunga

Jika hari telah tidur dipangkuan malam
Kukirim bisikan hatiku ini bersama angin
Biarpun malam pucat kedinginan
Biarpun bintang merintih di langit yang jauh
Aku akan tidur dengan tenang
Sambil memeluk senyummu dalam kehangatan mimpiku

Aku berkelana mencari cinta ke desa-desa yang jauh
Akhirnya di candi walandit kupuaskan dahagaku





SYAIR PENGIRING KETIKA ARYA DWI PANGGA BELAJAR AJIAN KIDUNG PAMUNGKAS

Ketika kata-kata……………
Sudah tidak bisa menjawab tanya……………
Maka bahasa pedanglah yang bicara………………
Bahasa para ksatria……………
Bahwa bumi mununtut sesaji darah manusia……………
Pedang……………
Taring betarakala sedang di amuk murka……………
Amarahnya menelan rembulan jadi gerhana……………
Bumi……………
Gelap pekat menangis air mata merah……………
Gemerlap kilat pedang menusuk dunia……………
Darah mengalir dari ujung pedang kekuasaan……………
Tergelar dari ujung pedang……………
Sebagaimana derita juga tergelar dari ujung yang sama……………




SYAIR DUKA PANGERAN KEGELAPAN / ARYA DWIPANGGA
Oh betara...
Sdh sulit ku bedakan hidup dan siksa....
Setiap nafas dan langkah ku raja derita......

Oh betara....
Buka matamu dan saksikan derita ku....
Telah kau kalahkan aku dengan tangan perkasamu....
Oh betara....
Kini mimpi-mimpiku pun hitam gelap...........
Segelap bola mata ku............

Letih sudah kaki menyelusuri lembah.......
Tapi.......
Perjalanan tidak kunjung usai.......
Tidak terperih luka.......
Carut marut oleh onak duri
Oh........
Perih luka ternyata jauh lebih perih jiwa.......


Gemulung halimun menutup jalan semua jalan........
Tapi aku tetap ingin pulang..........
Dewa..............
Kembalikan masa bocahku kedalam jiwa............
Jangan peluk akhir perjalananku........
Aku masih punyak rindu...........
Yang belum pupus............
Jemariku belum lagi menyentuh bayang-bayang mimpi ku


Jagat dewa batara.........
Sejuta kutuk pasu ku tadah dengan dada terbuka........
Tapi belum juga kau satukan aku dengan anak-anakku..........
Oh...............
Hanya rindu yang meratapi dosa-dosa........
Busuk.............


Satu-satu ...........
Orok dosaku mengering sudah............
Satu-satu ...........
Bayangan masa datang terasa benderang........